Archive for the ‘kesehatan’ Category

penyediaan statistik

June 6, 2011

BPS mempunyai tugas menyediakan data dan informasi
statistik yang berkualitas: lengkap, akurat, mutakhir,
berkelanjutan, dan relevan bagi pengguna data. Data
dan informasi statistik yang berkualitas merupakan rujukan bagi upaya
perumusan kebijakan dalam menyusun perencanaan, melakukan
pemantauan dan mengevaluasi program-program agar sasaran-sasaran
yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tepat, sehingga tujuan
pembangunan, diantaranya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,
dapat dicapai dengan efektif.
Visi dan misi Kementerian/Lembaga yang telah
diselaraskan dengan visi dan misi RPJMN 2010-2014. Rencana
Strategis Badan Pusat Statistik (Renstra BPS) Tahun 2010-2014
disusun berlandaskan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang
Statistik dan RPJM Nasional Tahun 2010-2014, serta memperhatikan
masukan dari para pemangku kepentingan (stakeholders). Renstra BPS
Tahun 2010-2014 menjadi acuan bagi seluruh jajaran BPS dan para
pemangku kepentingan, khususnya penyelenggara kegiatan statistik
dalam melaksanakan pembangunan nasional di bidang statistik selama
lima tahun ke depan. Renstra juga sebagai dasar bagi BPS dalam
melaksanakan kewajiban sebagai penyedia data dan informasi statistik.

Peranan Bahasa Arab Dalam Pengembangan Peradaban

June 5, 2011

Seminar Internasional “Peranan Bahasa Arab Dalam Pengembangan Peradaban” Abstrak dikirimkan ke Panitia paling lambat 5 Juni 2011

Pendidikan merupakan motor penggerak utama untuk meningkatkan mutu dan kualitas kecerdasan bangsa sehingga dapat melahirkan masyarakat terpelajar dan berakhlak mulia menuju kehidupan masyarakat Indonesia yang sejahtera

Sejak masuknya Islam ke Nusantara, bangsa Indonesia mulai menganal dan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa agama. Sebagai bahasa Agama, bahasa Arab telah lama memainkan peranan penting dalam pembentukan karakter bangsa yang religius. Bahasa Arab juga merupakan salah satu khazanah peradaban dunia klasik dan bahasa asing tertua yang dikenal. Dari realita tersebut, bahasa Arab mempunyai peran yang sangat besar dalam proses pendidikan dan pengembangan sikap religius peserta didik maupun masyarakat pada umumnya.

Dalam konteks bahasa Arab, perkembangan sosial budaya yang terjadi di negara-negara Arab pun akan berdampak pada bangsa lain, baik positif maupun negatif. Atas dasar itu, pemahaman bahasa dan budaya Arab, bagi bangsa Indonesia menjadi sangat penting dalam merespon perkembangan yang terjadi, baik di bidang ekonomi, politik, maupun agama.

 

 

Info Lebih Lanjut

Leaflet Download disini

rencana strategis Badan Pusat Statistik 2010-2014

June 5, 2011

Kata Pengantar

Perencanaan yang baik merupakan pijakan awal untuk menentukan

arah kebijakan yang strategis melalui penetapan program dan

kegiatan yang tepat. Salah satu kunci keberhasilan perencanaan

adalah tersedianya data dan statistik yang andal dan terpercaya. Data dan

statistik yang berkualitas merupakan rujukan bagi semua pihak dalam

memformulasikan kebijakan, melakukan pemantauan/monitoring, dan

mengevaluasi program agar sasaran kegiatan yang telah ditetapkan dapat

dicapai dengan efektif dan efisien.

Rencana Strategis Badan Pusat Statistik (Renstra BPS ) Tahun 2010-

2014 merupakan rencana pembangunan di bidang statistik selama lima

tahun ke depan yang disusun dengan mempertimbangkan perubahan

lingkungan strategis, terutama yang menyangkut potensi, peluang,

tantangan, dan permasalahan BPS. Renstra dirumuskan untuk menjadi

pedoman dan arahan bagi seluruh jajaran BPS dan para pemangku

kepentingan dalam upaya mencapai sasaran-sasaran pembangunan

statistik yang telah ditetapkan.

Atas segala masukan dan sumbangan pemikiran semua pihak yang telah

berpartisipasi mewujudkan Renstra BPS Tahun 2010-2014 disampaikan

penghargaan dan terima kasih. Semoga dokumen perencanaan ini

bemanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan untuk perkuatan

Sistem Statistik Nasional.

Jakarta, Februari 2010

Kepala Badan Pusat Statistik,

Dr. Rusman Heriawan

http://www.bps.go.id/download_file/Renstra_BPS_2010-2014.pdf

STATISTICAL SYSTEM IN INDONESIA: CHALLENGES AND PROSPECTS

May 24, 2011

STATISTICAL SYSTEM IN INDONESIA:
CHALLENGES AND PROSPECTS
By Rusman Heriawan
Eleventh Meeting of the Heads of National Statistical Offices of
East Asian Countries, 6 – 8 November 2006, Tokyo, Japan

National Statistical System
(Law Number 16/1997 on Statistics)
􀂃 Indonesia is implementing a semi-centralized statistical
system. Statistical survey to some extent may be
conducted by various government and private research
agencies
􀂃 BPS Statistics Indonesia functioning as a leading agency
to coordinate and advise statistical-related activities
initiated by various agencies
􀂃 BPS is also responsible for developing and standardizing
socio-economic classifications, concepts and definitions,
and measurements to be used by related government
agencies
􀂃 To support BPS mission and responsibility, an advisory
board consisting of independent persons from universities,
NGOs, governments were chosen to work closely with BPS
in facing methodology, non-response problems and future
challenges.

NATIONAL STATISTICS SYSTEM
STATISTICS
INQUIRIES
RESOURCES,
METHOD,
INFRASTRUCTURE,
PLATFORM,
TECHNOLOGY,
AND LAW/ACT
STATISTICS
FORUM
SECTORAL
STATISTICS
BASIC
STATISTICS
SPECIAL
STATISTICS
GOVT.
INSTITUTIONS
BPS
COMMMUNITY
BPS
as
STATISTICAL
CLEARING
HOUSE
DATA
DATA
DATA
SYNOPSIS
SURVEY
COADPRO
OTHERS
SURVEY
COADPRO
OTHERS
CENCUS
SURVEY
COADPRO
OTHERS
Annex 1: SYSTEM CONSOLIDATION
CISS
(1) (2) (3)
(1)
(4)
(5)
REWARDS
NOTE:
CISS : Co-ordination, Integration, Synchronisation
and, Standardise
COADPRO : Compilation of Administration.s Products
(1) : BPS co-ordinates statistical activities
(2) : Govt. Institutions announce their statistical activities to BPS, then BPS
produces the recommendation
(3) : Govt. Institutions co-ordinate and cooperate with community
(4) : Govt. Institutions deliver their stat. Products to Stat. Clearing House
(5) : Community deliver their survey’s synopsis to Stat. Clearing House

Types of Statistics and Responsibility
A. Basic Statistics
General-purpose or basic statistics, the provision of which are
the responsibility of BPS, are those utilized for a broad range
of purposes, having cross-sectoral characteristics, aggregated at
national and macro level.
B. Sectoral Statistics
Sectoral statistics are statistics conducted and produced by
sectors including by-product of their administration, compiled
independently or in cooperation with BPS, to satisfy needs to
perform their duties.
C. Special Statistics
Specific statistics are those utilized to fulfill specific needs of
businesses, education, socio-culture, and community interests,
mainly conducted by private research agencies

BPS Statistics Indonesia
􀂃 BPS is a non-departemental government agency
under the directives of and responsible to the
President
􀂃 As the main component of the National Statistical
System, BPS plays a very important role in
statistical development
􀂃 BPS has 33 offices at provincial level, 440 offices
at regency/municipality level, and at least one
official at sub-district level, employing a total of 14
000 staffs all over Indonesia

BPS Vision and Mission
Vision : realizing reliable statistical data as national and subnational
information backbone.
Mission:
􀂃 To provide complete, accurate, and up-to date statistical
information,
􀂃 To coordinate, integrate, synchronize, and standardize
statistical activities to create qualified, effective, and
efficient National Statistical System,
􀂃 To improve human resources capability so that they
become professional, and capable of dealing with science
and information technology of the latest development.

Figure 2 Organizational Structure of BPS-Statistics Indonesia
Director General
Bureau
of Program
Management
Bureau of
Personnel and
Legal Affairs
Bureau
of Finance
Bureau
of General
Affairs
Principal Secretary
Deputy Director
General for Social
Statistics
Deputy Director
General for Methodology and Statistical Information
Deputy Director
General for National
Accounts and
Statistical Analysis
Deputy Director
General for
Economic Statistics
Directorate
of Statistical
Methodology
Directorate
of Statistical
Dissemination
Directorate
of Statistical
Information System
Directorate
of Population
Statistics
Directorate
of Social Welfare
Statistics
Directorate
of Social Resilience
Statistics
Directorate
of Agricultural
Statistics
Directorate
of Industrial
Statistics
Directorate
of Financial and
Price Statistics
Directorate
of Production
Accounts
Directorate
of Consumption
A t
Directorate
of Statistical
Analysis
Directorate
of Trade and
Services Statistics
Education and
Training Center
Institute of Statistics Inspectorate
BPS Regional
Statistics Offices

Head
of BPS Statistics
Province
Division
of
General
Affairs
Division of
Integrated Data
Processing
and Statistical
Figure 3 Organization Structure of Provincial Statistics Office
Sub-Division
Section Section
Division of
Distribution
Statistics
Section
Division of
Production
Statistics
Section
Division of
Social
Statistics
Section
Division of Regional
Accounts and Statistical
Analysis

BPS Strategic Planning
􀂃 Bottom up planning is considered to respond to
the data needs for regional planning and
decentralization process
􀂃 In practice, combination of bottom-up and topdown
approach is implemented
􀂃 Two Key Strategies:
o Optimize resources to meet an increasing demand of
statistical data
o Expand types of basic statistics demanded and increase
the quality of statistical data

BPS Strategic Planning to Meet The
Challenges (1)
􀂃 Improve working relations and open discourses
with international institutions by providing more up
to date and complete national data
􀂃 Strengthen networking with other government
agencies in producing consistent sectoral data
􀂃 Improve types and quality of socio-economic
indicators related to the issues of MDG, HDI,
Gender, etc. by providing data commitment

BPS Strategic Planning to Meet The
Challenges (2)
􀂃 Enhance the quality and objectivity of strategic
data to measure government performance:
inflation, economic growth, unemployment and
poverty by providing more accurate data
􀂃 Enlarge data provision to meet the small area
statistics in line with decentralization by
strengthening regional data
􀂃 Strengthen BPS capacity and capability to provide
micro data for direct program implementation by
providing operational data.

CONCLUSION
􀂃 Under the semi-centralized statistical system
implemented in Indonesia, BPS plays a very
important role in statistical development
􀂃 Recently, statistics is not just used as information
but also used as a measurement of success
(confirming and clarifying the right or wrong) of
government policies
􀂃 Increase of non-response rate in many surveys
due to the misconception of democratization and
freedom of speech influenced the quality and
availability of data needs.

Mei-Juni, BPS adakan sensus sapi dan kerbau

May 23, 2011

SURABAYA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistisk (BPS) Jawa Timur bekerja sama dengan Kementerian Pertanian RI dan Dinas Peternakan Jatim akan mengadakan sensus sapi dan kerbau pada Mei hingga Juni 2011. Sensus sapi dan kerbau ini juga dilakukan serentak di Indonesia.

Kepala Badan Pusat Statistisk (BPS) Jawa Timur Irlan Indrocahyo mengatakan, sensus sapi dan kerbau baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Sensus yang akan memakan waktu dua bulan tersebut didanai Kementerian Pertanian RI.

“Sapi/lembu dan kerbau yang akan disensus adalah sapi dan kerbau potong bukan sapi serta kerbau perah termasuk para pengusahanya/peternaknya,” ujar Irlan di Surabaya, Selasa (4/1/2011).

Dengan sensu ini, pemerintah berharap bisa mendata dan mendapatkan informasi tentang berapa jumlah produktivitas sapi dan kerbau di Indonesia saat ini. Kemudian sensus tersebut sebagai bahan pemerintah untuk membuat data daftar nama dan alamat para pengusaha rumah tangga peternak sapi dan kerbau.

“Dengan diadakan senus tersebut ke depan pemerintah bisa mengetahui perkembangan produktivitas dan selanjutntya bisa mengurangi impor sapi,” ujarnya. kbc9

surono: sangat penting mitigasi bencana masuk dunia pendidikan

May 23, 2011

Dr. Surono Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementrian ESDM yang sering disebut “Mbah Rono” menyatakan bahwa saat ini pendidikan mitigasi bencana harus diterapkan dalam pendidikan formal mulai jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Hal tersebut disampaikan Surono dalam seminar “Urgensi Pendidikan Bencana di Indonesia” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi dalam rangka Dies Natalis UNY ke 47. Ditambahkannya, Indonesia merupakan Negara dengan potensi bencana alam yang besar. secara astronomis maupun secara administratif Indonesia terletak pada lokasi pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik yang aktif dan saling bertumbukan, yang didukung oleh variasi konfigurasi relief dengan iklim tropis basah, sehingga menyebabkan tingginya tingkat kerawanan bencana endogen yang berasal dari dalam maupun bencana eksogen yang berasal dari luar bumi.
Konsekuensi karakteristik geologis, geomorfologis dan klimatis di wilayah Indonesia berpotensi menimbulkan multibahaya dan multirisiko bencana. Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya jumlah dan kepadatan penduduk Indonesia dengan kesadaran dan pengetahuan tentang bencana yang masih relatif kurang. Diterangkan lebih jauh oleh Surono bahwa Multibahaya dan multirisiko bencana alam merupakan kondisi yang tidak dapat diubah, sehingga masyarakat yang hidup di kawasan rawan bencana memerlukan manajemen pengelolaan bencana secara tepat. Hal ini dilakukan agar dapat meminimalkan korban jiwa dan harta benda serta kerusakan lingkungan akibat bencana alam.
Ditegaskan “Juru Kunci Gunung Berapi Indonesia”- sebutan Surono oleh Masyarakat Indonesia- salah satu elemen penting dalam pengelolaan bencana adalah informasi mengenai bahaya dan risiko bencana. Informasi ini dapat dimanfaaatkan sebagai acuan baik dalam proteksi pra bencana (mitigasi dan kesiapsiagaan), penanganan darurat pada saat bencana, maupun pemulihan pasca bencana. Dia merasa prihatin informasi tentang kebencanaan terutama berkaitan dengan gunung berapi masih banyak dikaitkan dengan hal-hal yang irasional cenderung mistis dan pemikiran tersebut bahkan telah menjadi suatu norma adat dalam masyarakt tertentu. Ditambahkan Mbah Rono kemampuan berkomunikasi dengan melakukan infiltrasi terhadap kondisi suatu masyarakat sangat penting dalam menginformasikan tentang manajemen bencana.
Dalam kesempatan yang sama pada seminar tersebut dipaparkan juga tentang tinjauan kebencananaan secara konseptual dengan tinjauan akademik oleh Prof. Dr. Sari Bahagiarti, M.Sc pakar kebencanaan Yogyakarta. Selain itu dalam sesi yang sama pada seminar tersebut ditawarkan model-model pendidikan kebencanaan yang mungkin diterapkan di sekolah-sekolah oleh Suhadi Purwantara pakar pendidikan Kebencanaan dari Jurusan Pendidikan Geografi UNY. Pada sesi berikutnya seminar ini mengupas tentang Standard Operational Procedure (SOP) mitigasi bencana di Indonesia yang disampaikan oleh Dr. Sunarto, akademisi dari UGM dan Subandriyo, M.Si dari BPPTK Yogyakarta.
Muhammad Nursa’ban, panitia penyelenggara seminar tersebut menyatakan bahwa seminar ini diharapkan menjadi embrio lahirnya pendidikan mitigasi bencana di Indonesia. Tindak lanjut kegiatan seminar ini yaitu diadakan lokakarya pada hari berikutnya oleh para pakar kebencanaan untuk memformulasikan konsep pendidikan kebencanaan dan bahan ajar yang dapat diadaptasikan dalam konteks di Indonesia. Salah seorang peserta seminar Andi Hidayat, guru Geografi SMA di Gunung Kidul menyatakan bahwa seminar dan lokakarya dengan tema kebencanaan sangat kontekstual dengan kondisi Negara Indonesia yang potensial terhadap bencana dan diperlukan oleh peserta didiknya di Sekolah. Dyah respati, dosen Jurusan Pendidikan Geografi yang turut aktif dalam seminar tersebut mengungkapkan bahwa semiloka ini merupakan ajang yang tepat mendesain model pendidikan kebencanaan, ditambahkannya perlu keterlibatan pihak lain dalam memperkuat pendidikan kebencanaan di Indonesia. (sya’ban)
http://uny.ac.id/berita/UNY/surono-sangat-penting-mitigasi-bencana-masuk-dunia-pendidikan

video lagu sensus sapi dan kerbau sebagai sosialisasi dari BPS Tapin kepada masyarakat

May 22, 2011
Lirik Lagu : Sensus Sapi dan Kerbau
Ciptaan : Jumaidi Noor

sensus sapi sukseskan sensus sapi
sensus lengkap dicacah bulan juni
…kita sambut petugas sensus datang
dengan jujur memberi jawaban

perkembangan ternak perlu perencanaan
yang disusun secara matang
ditentukan adanya data-data
hasil sensus sesuai fakta

kita ingin kehidupan peternak
bisa sejahtera hidup lebih layak

diharapkan pada tahun depan
swasembada daging sapi dan kerbau

yuk kita sukseskan yuk kita berikan keterangan sensus yang diperlukan

sensus sapi sukseskan sensus sapi
sensus lengkap dicacah bulan juni
kita sambut petugas sensus datang
dengan jujur memberi jawaban
Sumber: http://bps36.blogspot.com/2011/05/video-lagu-sensus-sapi-karya-bps.html

Indikator Kesejahteraan Rakyat Jawa Tengah 2009

May 21, 2011

Indikator Kesejahteraan Rakyat Jawa Tengah 2009

Indikator Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Tengah 2009 menyajikan gambaran tentang taraf kesejahteraan masyarakat, perkembangannya antar waktu dan perbandingannya antar kabupaten/kota dan daerah tempat tinggal. Istilah kesejahteraan mencakup berbagai aspek kehidupan yang sangat luas yang tidak semuanya dapat diukur.

Publikasi ini hanya mencakup pada aspek-aspek yang dapat diukur dan tersedia datanya. Informasi umum tentang kesejahteraan yang tercakup dalam publikasi ini antara lain meliputi bidang kependudukan dan keluarga berencana, pendidikan, kesehatan, dan kondisi perumahan.

Sumber data yang digunakan adalah data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2008 dan 2009.

http://jateng.bps.go.id/2006/web06pub114/web06_1140105.html

panduan qurban

October 11, 2010

Panduan Qurban (Udhiyyah)

Diposting pada Ahad, 10-10-2010 | 15:41:16 WIB

http://www.muslimdaily.net/artikel/islami/6570/panduan-qurban-(udhiyyah

Oleh : Ustadz Budi Prasetyo

Staff Pengajar Ponpes As Salam Pabelan, Surakarta

Idul Qurban adalah salah satu hari raya di antara dua hari raya kaum muslimin, dan merupakan rahmat Allah swt bagi ummat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini diterangkan dalam hadits Anas ra, beliau berkata:

 

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رضي اللهُ عنهما : أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Nabi shallallahu alaihi wa sallam datang di Madinah, mereka di masa jahiliyyah memiliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya, maka (beliau) bersabda: “Hari apakah dua hari ini?” mereka menjawab, “Kami biasa merayakannya dengan bersuka ria di masa jahiliyyah”, kemudian Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduanya; hari Iedul Qurban dan hari Iedul Fitri.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasai).

Hari Raya qurban, termasuk syi’ar umat Islam, maka hendaknya kita menjaganya dan menghormatinya. Cara menghormati hari raya ini adalah dengan menghidupkan sunnahnya, dan menjauhkan dari hal-hal yang bid’ah.

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (Al Hajj 32).

MAKNA QURBAN
Qurban dalam bahasa Arab berasal dari kata qa-ru-ba ( قَرُبَ ) artinya dekat. Ibadah qurban yang di dalamnya terdapat penyembelihan hewan qurban adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ibadah qurban disebut juga “udlhiyah” ( أُضْحِيَّة ) artinya penyembelihan binatang sebagai qurban.

DASAR SYARI’AT QURBAN
Tentang penyariatan ibadah qurban ini ditetapkan berdaasarkan al-Qur’an maupun hadis. al-Qur’an menyinggung soal Qurban di dalam surah al-Kautsar

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan menyembelihlah”. (al-Kautsar:2)
Kata wanhar ( وَانْحَرْ ) maksudnya adalah menembelih binatang korban.

Sedangkan hadis yang menyebutkan persoalan qurban sangat banyak, di antaranya adalah;
ضحّى النّبيّ صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين أقرنين ، ذبحهما بيده ، وسمّى وكبّر ، ووضع رجله على صفاحهما .

 

 

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka janganlah ia mendekati masjidku” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah).
Korban ini telah disyari‘atkan pada tahun kedua hijriyah, bersamaan dengan disyari’atkan shlat Dua hari raya dan zakat harta.

KEUTAMAAN QURBAN
Keutamaan qurban dijelaskan oleh sebuah hadist A’isyah, Rasulullah s.a.w. bersabda

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amal yang dilakukan oleh anak Adam lebih disukai oleh Allah di hari korban selain dari mengalirkan darah (menyembelih qurban). Sesungguhnya korbannya itu di hari kiamat akan datang menyertai bani adam dengan tanduk-tanduknya, bulunya dan kuku-kukunya. Dan darah qurban tersebut akan menetes di suatu tempat (yang diridlai) Allah sebelum menetes ke bumi, maka sempurnakanlah korban itu ” (HR at-Tirmizi, dengan sanad dla’if).

HUKUM QURBAN
Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan fuqaha (ahli fiqh) menyatakan bahwa hukum qurban adalah sunnah muakkadah bagi mereka yang mampu. Tetapi Abu Hanifah (seorang ulama’ Tabi’in) menyatakan hukumnya wajib. Ibnu Hazm menyatakan: “Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” Sementara di dalam mazhab Syafi’i muncul pendapat bahwa qurban hukumnya sunnah ‘ain (menjadi tanggungan individu) bagi setiap individu sekali dalam seumur hidup dan sunnah kifayah bagi sebuah keluarga besar, menjadi tanggungan seluruh anggota keluarga, namun kesunnahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya.
Dalil yang dijadikan dasar tentang tidak wajibnya qurban, adalah hadits Ummu Salamah:

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ يُرِيدُ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلَا يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا

“Jika masuk tanggal 10 Dzul Hijjah dan ada salah seorang diantara kalian yang ingin berqurban, maka hendaklah ia tidak cukur atau memotong kukunya.” (HR. Muslim)
Kata “Dan salah seorang diantara kalian ingin berqurban”, menurut Imam Syafi’i, adalah menunjukkan qurban tidak wajib. Sebab memungkinkan juga adanya orang yang tidak berkeinginan, padahal ia mampu.

Sedangkan dalil wajibnya qurban menurut madzhab Hanafi adalah hadist Abu Haurairah yang menyebutkan

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

 

Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka janganlah ia mendekati masjidku” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah).

Hadis ini oleh Imam Hanafi difahami sebagai suatu perintah yang sangat kuat karena diikurti dengan suatu ancaman, sehingga lebih tepat untuk dikatakan wajib.
Dari dua pendapat tersebut, pendapat pertama lebih kuat, karena adanya dorongan yang kuat belum tentu bermakna sebagai kewajiban. Apalagi dengan adanya hadis Muslim dari Ummu Salamah yang menyebutkan bentuk pilihan, boleh memilih berkorban dan boleh tidak berkorban. Dengan demikian ibadah qurban disunnahkan kepada yang mampu.
Ukuran kemampuan tidak berdasarkan kepada nisab, namun disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Apabila seseorang setelah memenuhi kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli hewan qurban, khususnya di hari raya iedul adha dan tiga hari tasyriq maka berarti ia mampu.

KAPAN MENJADI WAJIB
Meskipun hukum asalnya sunnah mu’akkadah, namun qurban bisa menjadi wajib dalam keadaan dua hal;
1. Jika telah bernadzar untuk melakukan korban, sebagaimana hadis;

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلَا يَعْصِهِ

“Seseorang yang bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Allah, hendaklah ia melakukan ketaatan itu, dan jika ia bernadzar untuk bermaksiat maka janganlah melakukan maksiat” (HR al-Bukhari)

Karena korban merupakan sebuah amal yang baik, dan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah, maka para ulama’ sepakat apabila ada seorang muslim bernadzar untuk berkorban, maka wajib baginya untuk berkorban, baik ia dalam keadaan kaya atau miskin.
2. Jika telah berniat untuk melakukan korban. Menurut Imam Malik, seseorang yang membeli binatang dengan mengatakan, ini untuk korban makaia berkewajiban untuk melaksanakan niatnya itu.

BINATANG QURBAN
Binatang yang dibolehkan untuk menjadi qurban adalah binatang ternak (an’am), seperti onta, sapi atau kerbau dan kambing atau domba. Boleh berkorban dengan binatang tersebut, baik jantan atau betina. Tetapi berkorban dengan binatang yang boleh dimakan selain jenis binatang ternak (an’am) seperti burung dan kuda para ulama’ sepakat tidak boleh. Dalil ketentuan binatang itu adalah firman Allah

ولكلّ أمّةٍ جعلنا منسكاً ليذكروا اسم اللّه على ما رزقهم من بهيمة الأنعام

(al-Hajj:34)

Adapun pelaksanaan korban, binatang tersebut ditentukan;

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ

“Dari Jabir, berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, akan tetapi jika kalian merasa berat hendaklah menyembelih kambing Al-Jadza’ah (HR. Muslim dan Abu Daud).
Yang dimaksud dengan Musinnah yaitu jenis unta, sapi dan kambing atau domba yang telah cukup umur. Umur kambing adalah ketika sudah sempurna usia setahun dan memasuki tahun kedua, untuk sapi telah sempurna usia dua tahun dan masuk tahun ketiga, sedangkan unta telah sempurna usia lima tahun dan telah menginjak tahun keenam. Menurut Ibnu at-Tin, yang dinamakan musinnah adalah ketika sudah berganti gigi. Sedangkan jadza’ah yaitu kambing atau domba yang berumur setahun pas menurut pendapat jumhur ulama. Tetapi ada yang berpendapat, kambing usia 6 bulan sudah masuk jadza’ah.

Binatang Korban yang Paling Utama
Sejauh ini tidak ada penjelasan khusus dari Rasulullah tentang binatang yang paling utama untuk dijadikan qurban. Dengan mengambil pelajaran dari keutamaan bersegera menghadiri shalat Jum’at, bisa disimpulkan bahwa binatang yang paling utama menjadi korban adalah adalah onta, setelah itu sapi, setelah itu baru kambing atau domba.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub, kemudian berangkat (shalat Jum’at) pada urutan pertama maka seolah-olah ia berkurban dengan seekor onta. Dan orang yang berangkat pada barisan kedua, maka seolah-olah ia berkorban dengan seekor sapi, dan barangsiapa berangkat pada urutan ketiga maka seolah-olah ia berkorban dengan seekor domba. Barangsiapa berangkat pada urutan keempat maka selah-olah ia berkorban dengan ayam, dan yang berangkat pada urutan kelima seolah-olah ia berkorban dengan telur. Jika Imam sudah keluar maka malaikat akan datang untuk mendengarkan dzikir (khutbah)” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Adapun bagi yang berkorban dengan seekor kambing atau domba, yang paling utama adalah seperti yang pernah dijadikan korban oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ فَضَحَّى بِهِ

“Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan menyembelih domba yang bertanduk baik, dan sekitar kaki, perut dan matanya berwarna hitam. Kemudian didatangkan kepada beliau, lalu disembelih.” (HR. Abu Daud).

Hewan yang Dilarang Dijadikan Qurban
Ada beberapa cacat pada binatang yang nenyebabkan ia tidak boleh dijadikan binatang korban. Larangan itu telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam .

أَرْبَعٌ لَا تُجْزِئُ فِي الْأَضَاحِيِّ الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي

Ada empat hal yang tidak boleh dalam berkorban, 1) buta sebelah mata, yang tampak jelas kebutaannya 2) sakit yang jelas sakitnya, 3) pincang yang nyata-nyata pincangnya, dan 4) kurus tidak berlemak (HR Abu Dawud)

Selain keempat tersebut Rasulullah juga melarang berkorban dengan binatang yang tanduknya pecah, atau telinganya hilang sebagian.

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُضَحَّى بِأَعْضَبِ الْقَرْنِ وَالْأُذُنِ

Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang berkorban dengan binatang yang pecah tanduknya dan telinganya(at-Tirmidzi, Ibnu majah dan Ahmad)
Sa’id bin Musayyib menuturkan, bahwa binatang yang kehilangan setengah atau lebih tanduk atau telinganya maka tidak selayaknya untuk dijadikan korban. Tetapi para ulama’ menjelaskan bahwa kalau ia kehilangan sebagain telinga, tanduk atau ekornya dan tidak sampai setengahnya dan bukan karena kesengajaan maka masih boleh digunakan untuk korban. Demikian juga binatang yang terkena sedikit penyakit kulit, boleh digunakan untuk berkorban.

Binatang yang Dikebiri
Sejauh ini tidak ada larangan berkorban dengan binatang yang dikebiri. Meskipun sebenarnya ada cacat, khususnya dalam reproduksi, namun cacat dalam reproduksi ini tidak menyebabkan suatu binatang dilarang untuk dijadikan korban. Bahkan al-Haitsami di dalam kitab Majma’ az-Zawaid menyebutkan adanya beberapa ulama’ yang menyebutkan bahwa nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan qurban dengan binatang yang dikebiri.

Patungan Korban
Satu ekor kambing atau domba bisa diniatkan pahalanya untuk dirinya dan keluarganya meskipun jumlah keluarganya banyak.

قَال عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ حَتَّى تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَتْ كَمَا تَرَى

“Berkata Atha bin Yasar: Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari, bagaimana sifat sembelihan di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam , beliau menjawab: jika seseorang berkurban seekor kambing, maka untuk dia dan keluarganya. Kemudian mereka makan dan memberi makan dari kurban tersebut.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Sedangkan untuk seekor sapi bisa diniatkan untuk 7 orang, sebagaimana hadis berikut;

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

“Dari Jabin, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyyah seekor sapi untuk tujuh orang dan seekor onta yang gemuk untuk 7 orang.” (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad).
Dan seekor onta, menurut madzhab Syafi’i, Hanafi, dan mayoritas ulama’ bisa untuk 7 orang. Tetapi menurut Ishaq bin Rahawiyah dan Ibnu Khuzaimah, bisa untuk 10 orang. Alasan Ishaq adalah hadis dari Ibnu Abbas berikut;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَحَضَرَ النَّحْرُ فَذَبَحْنَا الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَعِيرَ عَنْ عَشَرَةٍ

“Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan kemudian tiba hari Ied. Maka kami berserikat tujuh orang pada seekor sapi dan sepuluh orang pada seekor unta.” (HR At-Tirmidzi).
Demikian ketentuan rombongan dalam berkorban. Tetapi sekarang ini muncul gejala baru, melakukan iuran oleh orang banyak, untuk membeli seekor binatang korban, lalu binatang itu disembelih dengan nama korban. Korban semacam itu tidak sah.

WAKTU PENYEBELIHAN
Permulaan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban adalah setelah selesai shalat Ied Adha. Hal ini didasarkan kepada hadis;

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَقَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا

Dari Barra bin Azib ra, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah, beliau bersabda: Sesungguhnya perkara yang pertama kita mulai pada hari ini adalah kita shalat kemudian menyembelih. Maka barang siapa yang melakukan hal itu, dia telah mendapatkan sunnah kami. (HR al-Bukhari)
Di dalam riwayat Muslim disebutkan adanya tambahan penjelasan,

وَمَنْ ذَبَحَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

Dan barang siapa yang telah menyembelih (sebelum shalat), maka sesungguhnya sembelihan itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.” (HR. Muslim).

Diperbolehkan untuk menunda penyembelihan hewan kurban, pada hari kedua dan ketiga setelah hari Ied. Dan batas akhir penyembelihan adalah tenggelamnya matahari pada hari tasyriq yang terakhir, sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Jubair bin Muth’im bahwasanya beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Setiap hari tasyriq ada sembelihan.” (HR. Ahmad).

TEMPAT MENYEMBELIH
Dalam rangka menampakkan syiar Islam dan kaum muslimin, disunnahkan menyembelih di lapangan tempat shalat Ied, sebagaimana hadis dari Ibnu Umar.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِالْمُصَلَّى

“bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam : menyembelih di tempat shalat Ied.” (HR. Bukhari).

LARANGAN MEMOTONG RAMBUT DAN KUKU
Orang yang hendak berqurban, tidak diperbolehkan bagi dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun, setelah masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga shalat Ied.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong) rambut dan kukunya.” (HR. Muslim).
Larangan memotong kuku dan rambut ini berlaku dengan segala macam caranya, baik dengan gunting atau yang lainnya. Demikian juga dalam hal larangan memotong rambut; baik gundul, memendekkan rambut, mencabutnya, membakarnya atau selain itu. Larangan di dalam hadis ini difahami oleh para ulama’ sebagai haram. Sebab setiap larangan berfungsi untuk mengharamkan, kecuali apabila ada keterangan lain yang menjelaskan ketidakharamannya. Tetapi kalau ada yang melanggar larangan tersebut hendaknya minta ampun kepada Allah dan tidak ada fidyah (tebusan) baginya, baik dilakukan sengaja atau lupa.”
Tetapi para ulama’ berbeda pendapat tentang makna larangan ini. Imam Malik dan asy-Syafi’i memandang larangan ini bermakna makruh. Tetapi Imam Ahmad bin Hanbal memandang sebagai haram. Dan Imam Abu hanifah berpendapat tidak apa-apa. Pendapat yang kuat adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syafi’i dan Malik karena ada riwayat.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَفْتِلُ قَلَائِدَ هَدْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيَّ ثُمَّ يُقَلِّدُهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ ثُمَّ يَبْعَثُ بِهَا مَعَ أَبِي فَلَا يَدَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَحَلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ حَتَّى يَنْحَرَ الْهَدْيَ

Dari Aisyah, ia berkata; saya pernah menganyam kalung hewan kurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kedua tanganku, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalunginya dengan tangannya dan mengirimnya bersama dengan ayahku, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan sesuatupun yang telah Allah ‘azza wajalla halalkan hingga beliau menyembelih hewan kurban. (HR an-Nasa’i)
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan kebiasaan memotong kuku dan rambut. Tetapi bukan berarti kemudian memotong rambut tidak apa-apa, adanya anjuran pada hadits Ummu Salamah berarti bahwa meninggalkan pemotongan rambut dan kuku itu adalah sunnah, dan memotongnya adalah makruh.

CARA MENYEMBELIH
Dalam menyembelih binatang diharuskan untuk meminimalisir rasa sakit yang diderita oleh binatang. Di antara cara yang bisa meminimalisasi rasa sakit adalah dengan pisau yang tajam. Sebagaimana disebukan di dalam hadis

إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu . Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya. (Riwayat Muslim)

Sebelum menyembelih terlebih dahulu membaca do’a sambil membaringkan sembelihan pada sisi kirinya karena yang demikian mudah bagi si penyembelih memegang pisau dengan tangan kanannya, dan menahan lehernya dengan tangan kiri.
Bacaan yang disepakati oleh para ulama’ adalah basmalah dan takbir. Tetapi di antara para ulama’ tidak ada kesepakatan tentang do’a lain yang dibaca menyertai basmalah dan takbir. Hanafiyah menganjurkan untuk juga membaca do’a inni wajjahtu wajhiya…, allahumma hadza ‘an fulan (nama yang berkorban), atau juga ucapan alahumma minka wa laka (ya Allah, binatang ini adalah dariMu dan untukMu). Dasar pendapatnya adalah hadits-hadts berikut;

أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Dari Anas bin Malik, dia berkata: Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyembelih dua ekor dombanya yang bagus dan bertanduk. Anas berkata, aku melihat beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri dan aku melihat beliau meletakkan kakinya di samping lehernya dan mengucapkan basmallah dan takbir.” (HR. Muslim).

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

Dari jabir bin Abdullah, ia berkata, “Aku mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat Idul Adha di tanah lapang, setelah selesai berkhutbah beliau turun dari mimbarnya dan mendatangi dombanya, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri seraya berkata “Bismillah Wallahu Akbar, ini (kurban) dariku dan dari umatku yang tidak menyembelih.” (HR. Abu Dawud)
Di dalam riwayat lain dikatakan

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ذَبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الذَّبْحِ كَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ مُوجَأَيْنِ فَلَمَّا وَجَّهَهُمَا قَالَ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ وَعَنْ مُحَمَّدٍ وَأُمَّتِهِ بِاسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ ذَبَحَ

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Kurban menyembelih dua domba yang bertanduk dan berwarna abu-abu yang terkebiri. Kemudian tatkala beliau telah menghadapkan keduanya beliau mengucapkan: (Sesungguhnya aku telah menghadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi di atas agama Ibrahim dengan lurus, dan aku bukan termsuk orang-orang yang berbuat syirik. Sesungguhnya shalatku, dan sembelihanku serta hidup dan matiku adalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagiNya, dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, ini berasal dariMu dan untukMu, dari Muhammad dan ummatnya. Dengan Nama Allah, dan Allah Maha Besar). (HR Abu Dawud)

Imam Malik tidak menganjurkan untuk mengucapkan minka wa laka. Dan Imam Ahmad bin hanbal hanya menganjurkan untuk membaca basmalah dan takbir saja. Tetapi kalau ditambahkan kata, hadza minni atau min fulan, allahumma taqabbal, boleh saja.
Selain itu, berdasarkan hadits-hadis di atas, orang yang berkorban disunnahkan untuk memotong sendiri hewan kurbannya, sebab penyembelihan ini merupakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi kalau tidak bisa menyembelih sendiri boleh mewakilkan kepada orang lain. Meskipun demikian dianjurkan baginya untuk menyaksikan penyembelihannya.

MEMBAGIKAN DAGING KURBAN
Bagi yang berkorban disunnahkan makan daging qurbannya, menghadiahkan karib kerabatnya, bershadaqah pada fakir miskin, dan menyimpan sebagian dari dagingnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا

“Makanlah, bershadaqahlah, dan simpanlah untuk perbekalan.”(HR.Bukhari Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا ضَحَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian berkurban, maka makanlah dari binatang kurbannya.”
Daging sembelihan, kulitnya, rambutnya dan yang bermanfaat dari kurban tersebut tidak boleh diperjualbelikan menurut pendapat jumhur ulama, dan seorang tukang sembelih tidak mendapatkan daging kurban. Tetapi yang dia dapatkan hanyalah upah dari yang berkurban.:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَقْسِمَ جُلُودَهَا وَجِلَالَهَا وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا شَيْئًا وَقَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

“Dari Ali bin Abi Thalib ra, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk menyembelih hewan kurbannya dan membagi-bagi dagingnya, kulitnya, dan alat-alat untuk melindungi tubuhnya, dan tidak memberi tukang potong sedikitpun dari kurban tersebut. Tetapi kami memberinya dari harta kami” (HR. Bukhari Muslim).

Kulit Korban
Tentang Kulit Qurban, Ulama sepakat bahwa kulit qurban boleh diambil oleh orang yang berqurban dan boleh juga dihadiahkan kepada orang lain. Akan tetapi, tentang bolehnya pengqurban mengambil kulit qurban, para ulama berbeda pandangan. Jumhur ulama berpandangan: “Pengqurban boleh mengambil kulit hewan qurbannya sendiri.”
Sebagian ulama lainnya menyatakan: “Pengqurban boleh menjual kulit qurbannya sendiri lalu ia mengambilnya atau bershadaqah dengannya. Tetapi sebagian yang lainnya seperti ulama’ pengikut Imam Malik tidak membolehkan menjual kulit korban atau menukar dengan yang lain, apapun bentuknya. Yang melarang menjual beralasan dengan

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّةٍ فَلا أُضْحِيَّةَ لَهُ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; Barangsiapa menjual kulit binatang korbannya maka tidak ada (pahala) korban baginya (HR al-Hakim dan al-Baihaqi, namun hadits ini dinilai dla’if karena di dalam sanadnya ada Abdullah bin ‘Ayyasy)
Namun jika kulit itu telah diberikan kepada orang lain, maka ia boleh saja melakukan penjualan atau menukar dengan sesuatu yang lain, sebab yang dilarang menjualnya adalah pengqurban.

Membagikan kepada Non-Muslim
Persoalan ini juga merupakan wilayah yang diperselisihkan di antara para ulama’. Sebagian membolehkan kita memberikan daging qurban untuk non muslim (ahlu zimah), sebagian lainnya tidak membolehkan.

Kalau kita telusuri lebih dalam literatur syariah, kita akan menemukan beberapa variasi perbedaan pendapat, yaitu: Imam Al-Hasan Al-Basri, Al-Imam Abu Hanifah dan Abu Tsaur berpendapat bahwa boleh daging qurban itu diberikan kepada fakir miskin dari kalangan non muslim. Sedangkan Al-Imam Malik berpendapat sebaliknya, beliau memakruhkannya. Al-Laits mengatakan bila daging itu dimasak dulu kemudian orang kafir zimmi diajak makan, maka hukumnya boleh. Sementara Al-Imam An-Nawawi mengatakan bahwa umumnya ulama membedakan antara hukum qurban sunnah dengan qurban wajib. Bila daging itu berasal dari qurban sunnah, maka boleh diberikan kepada non muslim. Sedangkan bila dari qurban yang hukumnya wajib, hukumnya tidak boleh.
Pendapat yang kuat, menurut kami, adalah yang membolehkan pemberian daging korban kepada orang kafir. Sebab pemberian ini termasuk sedekah, dan bersedekah kepada non-Muslim tidak ada larangan. Apalagi jika mereka adalah kerabat, atau tetangga kita. Allahu a’lam bish-Shawab.

 

Hukum Mengkonsumsi dan Bisnis Tokek

October 9, 2010

Apakah Anda gemar makan daging tokek? Entah daging tokek tersebut Anda sate, Anda sangrai, dan lain-lain, maka, Anda harus berpikir ulang, berikut ulasannya

Apakah hukumnya mengkonsumsi dan mengoleksi tokek?
http://www.hidayatullah.com/konsultasi/konsultasi-syariah/11911-hukum-mengkonsumsi-dan-bisnis-tokek
Assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh

Saat ini pemburuan dan bisnis tokek sedang marak, sehingga harganya begitu tinggi. Dari informasi yang berkembang, konon ada tokek harganya bisa mencapai ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. Pemanfaatan tokek pun bermacam-macam, dikonsumsi sebagai obat dan sebagai koleksi. Untuk itu saya mau bertanya, apakah hukumnya mengkonsumsi dan mengoleksi tokek?

Wassalamu alaikum

Ahmad, Surabaya

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Memang benar saudaraku –rahimakallah- bahwa tahun-tahun terakhir ini tokek menjadi komoditas yang diburu orang. Hal itu tidak lain karena harga jualnya yang begitu luar biasa mahal, sebagaimana pengakuan pebisnis pada sebuah media cetak. Meskipun cukup populer dan menggiurkan, sikap hamba Allah yang konsisten pasti terdorong untuk mengkonsultasikan kepada al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui kaidah yang disarikan dari keduanya. Untuk itu, dalam mengkaji masalah ini dapat melalui tahapan berikut:

Pertama,
kaidah dasar mayoritas ulama ushul menyatakan: ”al-Ashl fi al-asyya’ al-ibahah illa ma dalla al-dalil ‘ala al-tahrim.” Artinya pada dasarnya hukum asal segala hal adalah boleh, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Berdasar pada kaidah yang diambil dari berbagai ayat dan hadis ini, hukum dasar dari tokek adalah halal. Masalahnya adalah, adakah dalil yang sahih dan definitif mengenai keharamannya. (more…)